Memang asyik ya, memegang gawai dan berlama-lama membuka media sosial. Menemukan postingan-postingan lucu, seru, sedih, hingga bahagia. Mengikuti perkembangan kehidupan idola, atau orang lain, entah atas dasar rasa ingin tahu, atau memang mengidolakannya. Beberapa memang menceritakan kehidupannya secara nyata, beberapa mungkin hanya konten yang sengaja dibuat-buat.
Media Sosial
Menurut Wikipedia, media sosial adalah teknologi interaktif yang memfasilitasi penciptaan , berbagi , dan agregasi konten (seperti ide, minat, dan bentuk ekspresi lainnya) di antara komunitas dan jaringan virtual.
Namun, aku tidak ingin membahasnya terlalu teknis, aku hanya ingin menceritakan pengalaman aku dalam bermedia sosial.
Aku sendiri pertama mengenal media sosial ya Facebook. Betapa senangnya waktu tau, dari media sosial tersebut aku bisa menemukan lagi teman-teman lama, mulai dari teman SD hingga kuliah, bahkan dengan para tetangga. Intinya, following dan followers-ku adalah orang-orang di dunia nyata, yang juga menjadi teman di dunia maya. Tapi waktu itu belum musim "salam interaksi" 😊
Lalu Twitter (X), di sana aku tidak terlalu aktif bikin tweet atau utas, aku malah lebih sering jadi pembaca saja, apalagi di Twitter lebih cepat update info-info terkini.
Selanjutnya, Instagram. Entah tahun berapa aku mulai mengenal Instagram. Awal-awal dulu, following dan followers-ku adalah orang-orang baru, yang kukenal melalui komunitas, atau event online. Jarang teman dunia nyata yang "berteman" di IG. Sehingga waktu itu, aku seperti memiliki "dunia baru" dengan koneksi yang lebih luas. Walaupun, pada perkembangannya, teman-teman lama di Facebook mulai mem-follow juga.
Tiktok, dengan beragam video pendek yang di-share, cukup bisa menjadi hiburan juga buat aku. Di platform ini, cukup lengkap juga, selain konten hiburan, juga informasi lain cukup cepat tersebar.
Thread, yang mirip dengan Twitter (X), karena lebih sering berbagi tulisan, kadang hal receh, yang bisa jadi bahan obrolan dengan pengguna lain.
Itu beberapa yang sering aku buka. Kalau kamu, sering main media sosial apa saja nih?
Sosial Media Sebagai Ajang Silaturahmi, Atau Cari Cuan?
Awalnya tentu untuk saling tahu kabar aja sih, terutama Facebook. Jadi memang bisa dibilang, FB bisa jadi jembatan untuk bersilaturahmi dengan teman-teman lama. Lalu ada group, hingga marketplace, yang pada perkembangannya bisa untuk wadah cari cuan juga sih, dengan menawarkan dagangan secara online. Jual baju, aku pernah. Lalu di masa kini, ada juga Facebook Pro yang katanya bisa menghasilkan. Aku nggak terlalu paham, karena tidak concern kesana. Jujurly, aku nggak mengikuti aktivitas "salam interaksi" di sana...hehe. Boleh dong cerita soal itu, kalau kamu pengguna Facebook Pro juga.
Memperoleh uang dari bermain Twitter? Aku pernah sih, waktu itu, pernah mendapat kiriman produk yang harus dibuat utas di sana. Tapi memang jarang sih, aku nggak concern juga untuk monetisasi.
Beda lagi kalau Instagram. Sepertinya, di platform inilah aku mulai mengembangkan diri untuk urusan membuat video pendek. Apalagi, masa pandemi kala itu, membuat aku banyak belajar bermedia sosial dengan mengikuti berbagai webinar, mulai dari webinar tentang kepenulisan, voice over, mindfulness dan lain-lain. Dari webinar itu, dulu sering ada challenge, yang berhadiah uang tunai, hingga produk. Aku cukup beruntung karena beberapa kali terpilih jadi pemenangnya.
Sampai kemudian aku bergabung di komunitas parenting, dan makin belajar lagi dalam memanfaatkan media sosial secara produktif. Soal ini, aku sudah menuliskannya di buku antologiku yang berjudul Noktah Perjalanan Hidup. Tulisanku sendiri waktu itu berjudul "Apa Yang Bisa Dilakukan Setelah Berhenti Bekerja", dimana kala itu, menjadi tulisan favorit pilihan editor.
Balik lagi ke Instagram ya, yang awalnya hanya untuk ajang eksis dan jadi tempatku cerita soal pekerjaan (kala itu masih jadi penyiar dan produser), pada perkembangannya jadi platform yang bisa menambah uang jajanku juga kala itu. Sekali lagi, karena waktu itu pandemi, aku jadi punya cukup banyak waktu di sini, sembari mengasuh baby Nasha dulu.
Karena aku bergabung dengan beberapa komunitas, jadi banyak info-info juga yang masuk, termasuk info soal influencer dan KOL.
Influencer Dan KOL, Apa Bedanya?
Menurut SpaceHub, KOL adalah individu yang memiliki kredibilitas tinggi di bidang tertentu dan dianggap sebagai ahli dalam industrinya. Mereka bisa berasal dari berbagai latar belakang, misalnya dokter, chef profesional, ahli keuangan. Jadi orang bisa dengan mudah mempercayai rekomendasi dari mereka berdasar pengetahuan dan pengalaman yang mereka miliki.
Influencer adalah individu yang memiliki banyak pengikut di media sosial dan mampu memengaruhi opini serta perilaku audiens mereka. Mereka tidak selalu memiliki keahlian khusus, tetapi dikenal karena konten yang mereka buat dan interaksi yang kuat dengan pengikut mereka.
Influencer sering bekerja sama dengan brand untuk meningkatkan awareness dan engagement melalui konten yang menarik, seperti ulasan produk, unboxing, atau tutorial.
![]() |
| Ketemu komunitas melalui media sosial |
Aku Apa?
Intinya, aku suka saja untuk membuat video, suka berfoto, suka berbagi informasi dan pengalaman. Dan itu aku posting di media sosial. Jadi mau disebut apa juga bebas, terserah.
Namun, seiring waktu ada juga tawaran-tawaran kerjasama yang masuk, entah itu melalui direct message di medsos, ataupun ketika aku apply di agency/management KOL. Produknya pun beragam, mulai dari skincare, bodycare, produk anak, klinik kecantikan, cafe, resto, hotel hingga biro umrah. Macem-macem lah.
Loh kok bisa campur-campur gitu produknya? Ya memang aku tidak mengkhususkan diri di produk tertentu. Sekedar menyesuaikan saja dengan kehidupan dunia nyataku, yang mana aku juga seorang perempuan yang perlu merawat diri dengan skincare dan lain-lain, aku seorang ibu yang suka share parenting dan produk anak, aku suka jalan-jalan, suka datang ke event, dan lain-lain. Jadi, aku tidak masuk di niche tertentu. Kalau di dunia KOL/Influencer, ini mungkin jadi pro kontra ya. Ada yang bilang, kalau campur-campur gitu akan susah berkembang karena susah terbaca oleh algoritma medsos terkait. Tapi ya itu tadi, aku susah kalau hanya boleh cerita soal kuliner saja, atau produk anak saja. Soalnya aku pingin cerita semua yang aku ingin ceritakan. Ngeyel ya?! Hahaha. Tapi ya sudahlah, toh aku tidak menyebut diri sendiri sebagai influencer atau KOL kok. Terserah preferensi masing-masing.
Apakah Medsos Bisa Mempengaruhi Kita?
Kalau ditanya, apa pengaruh media sosial buat kamu? Apa jawabannya? Kalau menurut aku, tentu saja ada pengaruhnya. Saat seseorang memposting sesuatu, misalnya, konten tentang lipstick yang ia pakai dan terlihat bagus, kita pun jadi ingin membelinya kan? Begitu juga ketika seseorang memposting kegiatannya saat memasak, kita jadi ingin tahu resepnya dan recook.
Tapi memang harus jeli dan waspada juga, agar kita tidak mudah terhasut saat ada unggahan yang provokatif, ujaran kebencian dan sebagainya. Karena media sosial ini kan sangat luas dan beragam isinya.
Jadi kalau menurut aku, media sosial memang bisa mempengaruhi kita. Baik atau buruk, filternya ada di masing-masing dari kita nih.
Sebaiknya, pilih konten yang memang berguna untuk kita. Misalnya, konten yamg menghibur dan konten edukasi seperti pengembangan diri. Banyak kan, orang-orang baik yang berbagi ilmu dan pengalaman, tentang parenting, cara menulis novel/buku, tips voice over, affiliate dan lain-lain. Sehingga pengaruhnya akan baik untuk kita, dan berguna, bahkan membuat kita punya kemampuan baru.
Jadi kesimpulannya, menurutku, media sosial bermanfaat dan membawa pengaruh baik, jika kita bisa memilih dan memilah apa yang kita lihat di sana. Dan jangan lupa, dari diri kita sendiri pun, juga harus punya batasan mengenai apa-apa yang akan kita share di media sosial.
Nah, teman-teman boleh nih, berbagi pengalaman dalam mengunakan media sosial. Share di kolom komentar ya!




0 Komentar