Menjadi Penyiar Radio

     Tengah hari, terdengar lagu favorit saya di radio mobil saat saya dalam perjalanan untuk mengunjungi seorang teman. Entah, tapi mood jadi bagus setelah itu, ditambah suara penyiarnya yang ramah menyapa. 

                          

Siaran
Mixer radio (pixabay)

"Untuk kamu yang sedang mobile, hati-hati di jalan ya. Kalau mau melintas di jalan Kaliurang harus sabar karena jalannya padat merayap..." Begitulah kira-kira ia menyapa pendengarnya.

Sepertinya menyenangkan ya menjadi seorang penyiar. Terkesan ramah dan selalu ceria. 

        Nah, meski sekarang saya bukan penyiar radio lagi, tapi saya ingin berbagi pengalaman saya selama kurang lebih 10 tahun siaran di radio. Bagaimana sih sebenarnya penyiar radio itu? Ya memang harus begitu, harus selalu terkesan gembira, walau mungkin hatinya sedang tidak baik-baik saja. Friendly, maka tidak heran kalau selalu ada yang pingin curhat. 

      Nah apa saja sih yang harus disiapkan ketika ingin menjadi penyiar radio? Tentu saja harus menjadi pendengar. Kalau dulu, menjadi pendengar radio, sekarang bisa juga menjadi pendengar siaran online, podcast dan sejenisnya. Mengapa? Supaya kita punya bayangan, seperti apa sih penyiar itu saat bekerja, terutama di stasiun radio yang ingin kita tuju untuk memasukkan lamaran pekerjaan. 

                

Studio siaran
Siaran di studio

Suara

Dulu, menjadi penyiar radio seolah harus punya standar suara tertentu. Besar, berat, tebal dan berwibawa, jika pria, sedangkan penyiar perempuan biasanya mempunyai suara yang merdu dan bulat. Suara bulat? Bagaimana ya menjelaskannya...hehe, yang jelas suaranya kalau didengar tuh mantap, tidak pecah atau serak.

Itu dulu, makin kesini, standar itu sepertinya telah banyak berubah. Dan pendengar pun tidak hanya terfokus pada suara saja, tapi penampilan secara keseluruhan, termasuk cara penyiar membawakan acara, memilih kata dan lain-lain. 

Saya sendiri mempunyai suara yang serak, sebenarnya. Tapi dulu saat training sebelum on air, trainer saya mengatakan suara serak saya, jika saya bisa mengolah, katanya bisa jadi seksi. Nah apalagi ini, suara seksi? Nanti ya di tulisan selanjutnya saya akan cerita  bagaimana dulu saat saya melakukan training di awal-awal menjadi penyiar. 

            

Talkshow
Siaran di luar studio

Mental

Ini rasanya tidak hanya perlu disiapkan saat ingin menjadi penyiar saja sih, tetapi lebih ke semua hal mungkin, persiapan mental itu penting. Menjadi penyiar, khususnya penyiar radio, akan banyak bicara secara on air dan langsung, bukan rekaman. Yang artinya, kita punya banyak peluang untuk melakukan kesalahan, baik saat bicara ataupun memgoperasikan peralatan pendukung siaran, jika siarannya memang tidak dibantu operator. Nah, siap-siap saja diprotes pendengar bahkan dimarahi atasan/rekan kerja. Menjadi penyiar radio juga memerlukan kepercayaan diri karena banyak hal tak terduga yang mungkin terjadi, kita juga lebih banyak bertemu orang baru, misalnya narasumber atau tamu, jika acaranya adalah talkshow. 

Menjadi penyiar radio juga harus bisa mengendalikan dan mengelola emosi, saat mendapatkan interaksi dari pendengar yang kurang menyenangkan mungkin, atau saat membawakan acara/informasi yang menyentuh perasaan, hingga rasanya ingin menangis atau yang lainnya. 

Waktu 

Bekerja sebagai penyiar radio, artinya harus punya waktu yang fleksibel. Bisa mendapat jadwal siaran pagi, siang, sore, malam bahkan dinihari, jika stasiun radionya 24 jam. Saya kebetulan pernah bekerja di radio yang siaran terus selama 24 jam. Jadi pernah merasakan siaran jam 6 pagi, jam 1 siang, bahkan tengah malam hingga subuh saat bulan Ramadhan. Nah ini juga perlu dipertimbangkan ketika akan memutuskan untuk menjadi penyiar radio. 

          

Berita
Mencari informasi dari berbagai sumber

Kebiasaan Yang Mendukung

Bekerja di media khususnya radio, juga mengharuskan kita untuk melakukan banyak hal yang mendukung wawasan, pengetahuan dan performance kita. Misalnya:

-Rajin update informasi terkini, mengikuti perkembangan musik dan lain-lain.

-Mau belajar berbagai hal termasuk hal teknis, seperti kualitas mikrofon, atau pengetahuan mengenai cara kerja pemancar radio dan lain-lain, meskipun ada divisinya tersendiri.

-Membiasakan untuk mengkonsumsi makanan sehat. Saya sendiri mempunyai suara yang cukup sensitif terhadap beberapa jenis makanan, seperti es dan gorengan. Jadi selama menjadi penyiar, saya membiasakan diri untuk menghindarinya. Walaupun susah juga ya...enak sih! Hehe...Dan makanan sehat ini juga untuk menjaga daya tahan tubuh mengingat jam kerja yang tidak menentu.

-Mencari berbagai tips agar suara terjaga. Seperti kondisi badan, kondisi suara tiap orang juga berbeda-beda. Suara saya yang cenderung mudah serak, membuat saya harus rajin minum air putih hangat yang diberi sedikit perasan jeruk nipis. Punya tips juga untuk menjaga suara? Share ya! 

Penyiar Radio Di Masa Sekarang

Seperti yang kita tahu, saat ini kita punya lebih banyak pilihan untuk mendengarkan sebuah produk audio. Seiring kemajuan teknologi, kita tidak hanya mendengar siaran dari radio saja, tetapi juga dari berbagai aplikasi penyedia siaran. Tentu saja kesempatan juga lebih banyak dong, untuk bisa menjadi penyiar, baik penyiar radio, voice over/pengisi suara dan lain-lain. Jadi tidak ada salahnya kalau terus menyiapkan diri sebaik mungkin dengan hal-hal di atas. Agar nanti jika kita bergabung dengan profesi tadi, bisa lebih mudah untuk memahami dan beradaptasi.  

Sekian ya, sharing saya mengenai apa saja yang harus disiapkan jika ingin menjadi radio announcer. Kalau teman-teman punya pengalaman juga, share ya, biar kita sama-sama makin tahu 😊









Posting Komentar

0 Komentar